Ramadhan Santri Aktivis

Oleh | Rifand NL*




Bagi santri, Ramadhan merupakan bulan penuh kebahagiaan. Pada bulan ini santri akan menghabiskan waktu untuk menikmati liburan setelah sebelumnya selama 11 bulan harus menimba ilmu di pesantren (penjara Suci). Selain menikmati hari-harinya bersama keluarga, ramadhan bagi sebagian santri juga momentum menunjukkan eksistensinya sebagai kaum terdidik (thalib) di tengah-tengah masyarakat, Baik secara personal maupun organisasi.
Di kalangan pesantren, kita menyaksikan betapa hubungan silaturahim nampak erat antar sesama santri asal daerahnya masing-masing baik selama masih nyantri maupun purna menjadi alumni. Ini mafhum bagi kalangan pesantren, dan lulusan lembaga apapun dan dimanapun–sebuah kecenderungan untuk berkelompok/berkomunitas  (Social Animal). Oleh karena itu, santri dan alumni sama-sama saling membangun relasi dalam rangka menjalin konektivitas. Yaitu dengan organisasi yang oleh santri di pesantren lazim dibentuk berdasarkan tempat asalnya.
Melalui wadah tersebut, dua garis koordinat yang memiliki perannya masing-masing massif di lakukan, Santri (aktif) di pondoknya akan ditempa beragam diktat, mulai dari training-training, tata kelola administrasi modern (tata usaha), advokasi, dan public speaking. Artinya, pada saat ini pula, aktivitas santri tidak sekadar ngaji kitab, sekolah di madrasah, melainkan sudah berkenalan dengan dunia aktivisme. Karenanya, tak berlebihan mereka disebut sebagai santri aktivis. Dan ini menjadi modal utama untuk ber -investasi pada masyarakat.
Dari wadah itulah, bagi santri, mereka menginginkan suatu capaian lebih daripada diktat keagamaan di pesantren. Jelasnya, ini merupakan gairah besar para santri untuk tidak kalah saing dengan mereka-mereka yang sekolah di luar pesantren yang selama ini dipandang lebih luas aksesnya, bebas dan terjamin banyak fasilitas.
Karenanya, hal ini bisa dilihat pada aktivitas mereka pada liburan ramadhan, tidak biasanya mereka ada dirumah, kecuali menghabiskan waktunya untuk merealisasikan program-program kerja yang telah dirancang jauh-jauh hari sebelum liburan ramadhan tiba. Pun tak jarang, mendekati liburan, para punggawa santri aktivis (panitia acara), mulai mengontak alumni untuk membantu proses eksekusi tempat dan stakeholder selama kegiatan nanti.
Adapun jenis kegiatan pada dasarnya tidak jauh-jauh amat dari kegiatan keagamaan, sosial dan solidaritas. Misalnya, jalinan silaturahim akan diperkuat lewat cara mengadakan khotmil Qur’an di rumah masing-masing santri secara bergiliran. Di bidang sosial, mereka tak jarang melakukan kegiatan bakti sosial, santunan anak yatim, bersih-bersih kuburan umum. Bahkan jika perlu tak tanggung-tanggung, mereka bekerja sama dengan sebuah instansi mengadakan sunnatan missal misalnnya.
Sedang proses implementasi keilmuan mereka, lazim masuk dalam rangkaian kegiatan, yaitu dengan cara mengajar di lembaga pendidikan, atau oleh mereka disebut Santri Kerja Nyata (SKN;di ponpes Sukorejo Situbondo) kendati di beberapa pesantren berbeda penamaan kegiatan tersebut. Intinya, mereka melakukan edukasi bagi para siswa pada materi-materi keislaman, seperti fikih puasa, sholat, dan lainnya. Kemudian, oleh mereka, puncaknya adalah diselenggarakan bersama-sama dengan alumni berupa acara Halal Bi Halal di permulaan bulan Syawal, sebelum akhirnya tanggal batas kembalinya santri ke pesantren tiba.
Pada semua rangkaian kegiatan santri selama liburan, pada dasarnya mereka (para santri) mau ikut terlibat menyemarakkan bulan ramadhan dengan kegiatan-kegiatan yang baik dan bermanfaat bagi banyak orang. Kehadiran mereka ditengah-tengah masyarakat dalam rangka melanjutkan syiar islam bisa tersampaikan. Karena peran mereka sebagai kalangan terdidik, meminjam istilah salah seorang cendekiawan Muslim kenamaan, Nurcholis Madjid di dalam bukunya, Bilik-Bilik Pesantren tidak berkisar pada pengembangan kualitas pribadi atau mencerdaskan dirinya sendiri (people centered development), melainkan memilki peran besar penanaman berorientasi pada nilai (value oriented development), baik untuk dirinya maupun juga kepada masyarakat.
Di samping peranan tersebut, Habiburahman EL Zhirazy, penulis novel Ayat-Ayat Cinta, menurutnya level ke Ulama-an akan diperoleh manakala berproses terlebih dahulu menjadi santri. Ia menyebutnya dengan istilah “Nadlotus Santri” (Kebangkitan Santri), sebelum akhirnya berada di level (Nahdotul) Ulama. Artinya, tugas dan tanggung jawab santri tidak jauh-jauh amat dengan ulama di tengah-tengah masyarakat (umat). Yakni sebagai suri tauladan, yang kiyai menjadi teladan bagi kalangan tua, dan bagi santri menjadi teladan bagi yang muda.
Praktis saja, santri diharapkan bisa menjadi sintesa antara pesantren dan masyarakat, sebagai kepanjangan tangan dari dakwah pesantren. Sementara yang lebih utama, ketika santri menjadi agen-agen islam yang baik pada ummat. Dengan ikut cawe-cawe menghidupkan nilai-nilai keagamaan dan sendi kehidupan lainnya di masyarakat.


*Penulis Lepas, Ketua Komisariat PMII Universitas Wiraraja, Alumni Sukorejo 2016
*Tulisan ini Pernah dimuat di Korana Jawa Pos (Radar Madura) 24/05/2019